50 years ago: The Ernst Degner story (cerita Ernst Degner, 50 Tahun yang lalu) bagian II


Kita lanjutkan kembali kisah skandal spionase teknologi sepeda motor yang melibatkan Degner dan juga Kaaden kemarin 😀

Tiga Teknologi kunci mesin 2-stroke

Pada masa pertengahan tahun 50an, mesin-mesin balap berteknologi 2-stroke dianggap telah habis masa kejayaannya karena selalu kalah dengan mesin 4-stroke. Itulah sebabnya mengapa sebagian besar orang yang ada di paddock GP di Nurburgring tertawa ketika melihat Tim MZ dengan mesin 2-stroke muncul untuk debut pertama GP dalam sebuah van agak berantakan berisikan sepasang sepeda motor balap 125 cc 2-stroke yang terlihat jadul dibanding tim balap lainnya.

05

Yang tidak diketahui oleh tim-tim balap lainnya adalah, bahwa Tim MZ dibawah pimpinan Walter Kaaden ini telah menggunakan dan menerapkan pengetahuannya yang ia dapatkan di Peenemünde (pabrik roket Hitler tempat dulu dia bekerja) untuk mengubah MZ yang kelihatan jadul menjadi sebuah ancaman yang nyata untuk mengalahkan semua mesin balap 4-stroke.

mz125

Dengan menyatukan tiga teknologi kunci untuk pertama kalinya yaitu ruang ekspansi (expansion chamber), katup disk (rotary valve) dan boost port mampu meningkatkan tenaga mesin dari MZ 125cc dan menjadikannya mesin pertama di dunia yang memberikan gambaran sebuah mesin yang mampu menghasilkan power 200 hp per 1000cc.

660px-Arbeitsweise_Zweitakt

Kaaden’s secret exhaust ‘pulse’ chamber

14. Kaadeni summutite evolutsioon

knalpot/chamber exhaust percobaan Kaaden

Meskipun kekurangan sumber dana, Tim balap MZ  mampu bersaing dengan Honda untuk titel juara dunia 125cc sepanjang musim panas tahun 1961 dengan pembalapnya Degner yang menggunakan sepeda motor MZ mesin satu silinder 2-stroke, melawan pembalap Honda dari Australia Tom Phillis yang menggunakan mesin Honda 4-stroke twin.

Kaaden tahu bahwa sebenarnya mesin MZ-nya mempunyai kekuatan dan kecepatan untuk mengalahkan mesin Honda, namun dibalik itu ada sesuatu yang tidak dia sadari…

07-degner

Ternyata Degner merasa iri dan cemburu dengan rival pembalap dari tim lain diluar negara Jerman Timur yang pada saat itu menganut faham komunis. Para pembalap diluar Jerman Timur bergaya hidup yang mewah dengan pakaian model terbaru dengan mengendarai Jaguar maupun Porsche. Sedangkan di negaranya dia dibayar tidak lebih dari seorang pekerja pabrik MZ.

Dia memang mendapatkan bonus dari kemenangannya di balap Grand Prix, jadi secara pendapatan dia lebih baik dari rekan satu timnya. Namun itu tidak cukup untuk membeli kemewahan dan gaya hidup ala barat seperti pembalap yang lain. Menjadi warga negara Jerman Timur dia selalu merasa hidupnya terancam dan dimata-matai oleh Stasi (polisi Jerman Timur) dengan dalih menyelamatkan warga mereka dari kejahatan imperialisme barat.

Yang menjadi permasalahannya adalah, bahwa kehidupan ala barat itu yang Degner inginkan, pakaian bagus, mobil mengkilap dan rumah yang bagus,dia ingin nongkrong di klub jazz, menari sepanjang malam diiringi musik Barat.

Jadi hanya ada satu hal untuk mencapai keinginannya itu, yaitu mempertaruhkan nyawanya dengan membelot keluar dari Jerman Timur.

Pada musim panas tahun 1961, Degner berhasil menyelinap dari pengawasan Stasi (polisi jerman timur) untuk melakukan pertemuan rahasia dengan personil dari Tim Suzuki. Tim Suzuki sendiri telah memulai keikutsertaannya pada Grand Prix setahun sebelumnya dengan motor 125cc-nya yang sangat lambat. Pada musim balap tahun 1960 kelas 125 TT dimenangkan oleh Carlo Ubbiali dengan motor MV 4-stroke dengan kecepatan rata-rata 85mph. Suzuki mencapai garis finish terbaik 15 menit kemudian, dengan kecepatan rata-rata hanya 70 mph.

Suzuki kemudian kembali ke negaranya dan bekerja keras membuat motor yang kompetitif dan setahun kemudian kembali lagi. Namun ternyata hasilnya jauh lebih buruk.

Presiden perusahaan Shunzo Suzuki menyadari, satu-satunya cara dia mencegah tim Suzuki dan perusahaannya dari bahan lelucon paddock adalah dengan mendapatkan formula rahasia Kaaden itu. Dan melalui Degner adalah jawabannya, dia ingin keluar dari Jerman Timur dan dia memiliki apa yang diinginkan oleh Suzuki. Dan sebuah kesepakatan dibuat Degner akan membantu Suzuki membangun mesin yang kompetitif 2stroke dan kemudian dia akan mengendarainya.

Selanjutnya keadaan menjadi lebih sulit, Degner berusaha membawa keluar beberapa teknologi Kaaden dari pabrik/bengkel balap MZ, dan kemudian dia berusaha membawa diri dan keluarganya keluar dari Jerman Timur. Namun Stasi membuat situasinya semakin sulit, setiap kali Degner melakukan balap di luar negeri Stasi melarang keluarganya ikut untuk memastikan agar Degner selalu pulang ke negaranya.

Bersambung ya…. :mrgreen:

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s